Skip to main content

katanya, bunga tidur

Rabu, 6 Maret 2019, tepatnya pukul 21:37 WIB, seorang mahasiswi tingkat dua sendang sibuk memikirkan akan banyaknya tugas yang dia punya. Ditambah tugas itu memiliki deadline yang cukup singkat. Jari-jarinya masih berkutik dengan keyboard laptop, otaknya terus jalan berfikir apa yang harus ia tulis agar para pembaca tertarik membaca kontennya.

galeri bintangku


Untuk minggu ini memang cukup melelahkan, aku masih saja sibuk bergulat dengan keyboard. Tetapi si sepuluh tidak mau mengerti, dia tetap saja asik berotasi dipikiranku. Aku siapa dan bagaimana aku nantinya? Sibuk menyulam kata dibalik tajamnya kenyataan. Asaku menari dalam setiap lentikan jari. Memeluk "aku" dalam jarak yang entah seberapa jauh. Menari di atas lampu, dalam balutan debu yang tak kunjung hilang. Berlatar putih, imajiku terbawa melayang.

Citaku tak setinggi tanah, tak serendah api. Bersisihan tanpa saling tatap. Tak muluk-muluk, membawa serta keluarga mengitari Ka'bah dengan lafalku yang kurang fasih dan qiraahku yang kurang merdu. Satu lagi, membangun sebuah yayasan untuk tempat tinggal si kecil yang kurang beruntung dalam hal materi maupun non-materi. Merangkul mereka yang berbeda dan rela menjadi bagian dari indera bagi mereka. Terlontar kata "mengapa?". Jawabku, "terbenak dipikiranku, bagaimana menjadi manusia yang baik setelah menjadi hamba yang benar." Belajar merasakan sebelum terlewatkan. Satu lagi, menyempurnakan agamaku dengan menikah, bersimpuh di atas sajadah, dan bersama menggapai ijabah dengan siapapun pilihan Tuhan ku. Inginku mendapat gelar magister sebagai setirku menuju kerasnya dunia kerja bertuhankan uang. Menjadi orang besar tanpa harus tergopoh mengejar, agar tak tergona berbuat tak wajar, agar aku tidak silau dunia gemebyar.

Jangan pudarkan bintangmu, di langit sana meninggi ke angkasa semua asa-asamu. Diraih oleh tanganmu yang bersayap, jangan sampai rapuh terbakar bara semangatmu. Dari bintang mimpi-mimpimu tumbuh. Kepakan kembali sayap dan buat bintangmu bersinar. Pada setiap ketinggian yang engkau capai nantinya, tentu kau akan melihat sisi kerendahannya dan kau tak pernah tahu pasti, dimana sesungguhnya pantas berada pada akhirnya. Tidurkan ketakutanmu, kelak ketika kau terbangun akan ada seluas keberanian yang tiba-tiba mendekapmu

Comments